Tergantung Niat

Hai lama gak posting di blog ini.

Beberapa minggu ini terutama setelah selesai lamaran memang jadi hari-hari yang sibuk buat saya. Selain urusan pernikahan, pekerjaan di kantor lagi lumayan padat. Makanya gak heran belakangan sering bengong dan gampang marah.

Padahal ada banyak yang bisa diceritain dan juga diinformasikan update progress persiapan pernikahannya. Tapi memang dari kemarin belum mood.

Sebenarnya hari ini juga belum mood sih, cuma terpaksa nulis karena ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan. Voila sudah ngerjain 3 kerjaan aja hari ini. Memang harus dipaksa ya biar produktif.

Kali ini mau cerita di sini akan sesuatu yang terlintas di kepala.

Jadi ceritanya belakangan ini saya stres karena mikirin undangan yang belum juga dapat vendornya. Padahal acara pernikahan sudah kurang dari 1 setengah bulan lagi.

Pressure dari orang tua yang nanyain setiap hari gimana progress-nya pas jam kerja, sukses bikin saya nangis di siang hari bolong (plus di depan rekan kerja!). Yes, sometimes the pressures are come from our inner circle. And it sucks. Saya jadi gampang membentak, sangking udah stresnya.

Termasuk Ndut menjadi sasarannya. Ndut yang sebenarnya bertugas mengurus kartu undangan saya perhatikan cenderung santai. Padahal saya yang setiap hari ditanyain terus sama orang tua. Jadilah dia kena omel dan kebawelan saya.

Hari ini, hari dimana saya kesal sampe ke ubun-ubun. Semuanya karena saya menganggap Ndut benar-benar tidak care dengan urusan undangan. Seharusnya hari ini sudah diperlihatkan orang tua saya, ternyata masih dibuat mock-up-nya.

Rasanya mau marah tapi gak boleh. Dari kemarin saya sudah mulai belajar menahan walaupun beberapa kali mau muntah sangking enek-nya (seriusan).

Sampai akhirnya saya berpikir bahwa saya juga punya andil akan kesalahan ini. Dari awal Ndut menawarkan vendornya untuk membuat kartu undangan saya malah ragu. Tapi saya tetap membiarkan walaupun setiap hari saya melihatkan rasa ketidak percayaan pada Ndut.

Dari rasa ketidak percayaan itulah sepertinya membuat urusan undangan ini gak pernah kelar. Kalau dibandingkan dengan urusan vendor catering, KUA, sampai lamaran saya menjalaninya dengan santai. Alhamdulillah malah selesai satu-satu tanpa ada masalah besar.

Untuk undangan memang saya tidak bisa terlalu santai karena waktunya yang sudah mepet sekali, tapi saya rasa dari awal niat saya sudah tidak baik. Sehingga semesta menunjukkan jalannya sesuai dengan kekhawatiran saya.

Sekarang saya pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Sambil berharap bahwa semua akan selesai dan berjalan dengan lancar.

Terkadang dalam hati berpikir, inikah yang dinamakan Bridezilla? Padahal sampai bulan lalu saya masih gak kenapa-kenapa. Kenapa bulan ini terasa berat sekali ya? 😥

Advertisements

One thought on “Tergantung Niat

Terima kasih telah membaca blog post ini. Silahkan meninggalkan pesan yang sopan dan tidak mengandung SARA. Komentar tidak sesuai dengan aturan dan juga menaruh link hidup akan dimoderasi.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s