Newlyweds

Cerita Umur Sebulan Pernikahan

Sebenarnya saya ingin menulis tema ini tepat sebulan setelah hari penikahan yang jatuh di tanggal 30 kemarin. Namun apa daya kesibukan belakangan ini yang membuat saya tidak bisa menulisnya di tanggal tersebut.

Akhirnya di waktu senggang ini saya bisa meluangkan waktu untuk bercerita tentang sebulan pertama perjalanan pernikahan. Mungkin bagi beberapa senior yang sudah melangsungkan pernikahan sampai belasan bahkan puluhan tahun akan membacanya biasa saja. Hmmm… Atau malah jadi ikutan nostalgia?

Apapun sensasinya setelah membaca tulisan ini, saya hanya ingin menulis demi kepentingan dokumentasi saya saja. Maklum, anaknya lupaan. Jadi mumpung masih fresh saya mau tulis pengalaman setelah sebulan menikah yang saya dan suami alami.

Silahkan dibaca 🙂

Beberapa jam setelah menikah suami menatap saya dengan mesra. Bukaaan. Bukan mau ngapa-ngapain hihihi. Tapi suami memeluk dan mencium saya, sambil bersyukur bahwa kami akhirnya menikah. Memang perjalanan kami menuju pernikahan penuh rintangan. Namun Alhamdulillah akhirnya kita bisa melewati semua dan bersiap menuju rintangan kehidupan selanjutnya.

Sehari setelah menikah, suami harus tetap masuk ke kantor. Sedih yaaa :’(. Memang karena kebetulan suami baru saja pindah ke kantor (yang Insya Allah mudah-mudahan lebih baik) sebulan sebelum hari pernikahan kami. Jadilah suami tidak diizinkan mengambil cuti cukup panjang untuk perjalanan honeymoon.

Kami honeymoon singkat di Yogyakarta. Dikarenakan alasan budget dan juga waktu yang sedikit. Itu juga pertama kalinya saya pergi berlibur tanpa itinerary. Jadi kami selama di Yogyakarta benar-benar pergi sesuka hati. Nanti saya share juga ya cerita perjalanan honeymoon-nya.

Akhirnya selama dua hari suami bekerja, saya hanya di rumah saja gak tau mau ngapain. Bahkan nge-blog pun malas. Jadilah saya beberes kamar (iyaaa, soalnya belum punya rumah hihihihi) sambil nyuci dan seterika.

Kegiatan paling favorit selama sebulan pernikahan adalah nungguin suami pulang kantor atau suami jemput saya ke kantor. Rasanya seneng sekarang setiap hari bisa pulang ke tujuan yang sama. Soalnya jarak rumah kami cukup jauh. Saya di Jakarta Utara, suami di Tangerang. Kebayangkan gimana perjuangan suami kalau mau ngapel. Hihihihi.

Oh iya, saya mau ngaku dulu nih. Setelah saya menikah selama sebulan (lebih, kalo sekarang), sampai hari ini saya belum pernah masak untuk suami. Ini maksudnya masak yang full ya. Dari pagi sampai malam. Sedih sih, Cuma memang tidak memungkinkan karena kami masih tinggal bersama orang tua. Otomatis sudah ada asisten rumah tangga yang menyiapkan makanan juga untuk orang tua kami.

Selain itu ada juga pengalaman yang lucu saat kami tidur. Saya sudah tahu kalau suami tidurnya ngorok. Tapi saya baru tahu kalau saya juga suka tidur sambil ngorok! Hihihi ini sih belum tau keabsahannya, karena hanya diketahui suami. Penasaran juga beneran apa engga.


Itu dia cerita saya tentang perjalanan selama sebulan pernikahan ini. Ada yang bilang kalau bulan-bulan awal itu manis banget.

Siapa bilang?

Kita udah berantem beberapa kali. Untuk hal-hal sepele sih. Tapi kita selalu menyelesaikan dengan cepat.

Semoga saja manis-manisnya awal pernikahan tetap terasa sepanjang masa ya. Dan semoga juga pernikahan ini bisa jadi contoh yang baik untuk anak-anak kami kelak.

Terima kasih sudah baca cerita ini 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Umur Sebulan Pernikahan

Terima kasih telah membaca blog post ini. Silahkan meninggalkan pesan yang sopan dan tidak mengandung SARA. Komentar tidak sesuai dengan aturan dan juga menaruh link hidup akan dimoderasi.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s