Couple Stories: Semua Orang Bisa Berubah

Kayaknya sudah beberapa kali saya cerita bagaimana perubahan setelah menikah di blog ini. Dan jika di rangkum, maka perubahan terbesar adalah menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru.

Kebayangkan yang tadinya sendiri sekarang jadi berdua. Terus tambah repotnya lagi karena satu orang ini beda banget gaya hidupnya sama saya.

Saya terbiasa hidup rapi. Bangun tidur selalu merapikan tempat tidur. Habis mandi selalu menjemur handuk (bukannya dibiarin aja di kasur sampe lembap, grrr). Dan masih banyak kebiasaan lainnya.

Sedangkan suami bisa benar-benar kebalikan dari saya. Ndut orangnya santai. Baginya kalau di rumah itu saatnya leyeh-leyeh dan beristirahat. Emak-emak (maksud lo gueeeh?) ga usah ribut.

Awalnya saya merasa sangat terganggu dengan kebiasaan suami yang sembarangan. Tidak jarang kalau pagi hari kami suka berantem cuma gara-gara baju belom dilipet. Duh!

Pokoknya engga banget. Karena pagi hari yang seharusnya punya mood yang bagus jadi berantakan karena ngeributin hal-hal yang gak perlu.

Untungnya saya selalu tipe yang berani ngajak ngomong duluan. Rasanya ga enak kalo kesel ditahan lama-lama. Walaupun kadang suka berantem, kita berakhir maaf-maafan.

Saya juga terpikir untuk mulai sedikit santai untuk menghadapi kebiasaan suami. Terkadang daripada ngomel saya sering melakukan pekerjaan tersebut sendiri, daripada ngomel dan keki karena suami malah lebih asyik main COC (iyaah, kesel kaaan?).

Atau kalau sayanya juga lagi capek, ya udahlah biarin aja berantakan. Besok-besok masih bisa dibersihin lagi. Pokoknya jangan sampe bikin ribut.

Surprisingly, kadang suami tanpa disuruh malah membantu saya. Katanya kasihan kalau saya angkat-angkat barang. Jadilah istrinya seneeeeeng sekali.

Seperti kejadian kemarin ketika mau berangkat kerja. Biasanya suami saya itu paling akhir turun ke bawah untuk sarapan. Terkadang saya harus terpaksa naik ke kamar lagi karena ada yang ketinggalan. Dan apa yang saya lihat?
Ruangan masih dengan lampu menyala, handuk belum dijemur, gantungan baju masih di atas kasur, dan segala hal yang saya kurang suka.

Tapi kali ini, ternyata ruangan sudah bersih dan lampu juga sudah mati. Tanpa ragu saya langsung memuji suami karena semakin rapi, yang disambut orangnya dengan cuek-cuek aja.

Dari sini saya belajar dua hal. Pertama, saya harus bersikap fleksibel. Jangan membuat pertengkaran yang tidak penting. Apalagi kami sama-sama bekerja, tentu jika sudah di rumah inginnya tenang dan menikmati waktu senggang.

Yang kedua adalah saya percaya bahwa semua orang bisa berubah. Terbukti dari pelan-pelannya suami sudah mulai bisa mengikuti kebiasaan saya yang tentunya baik juga untuk dirinya.

Yeiiiy! Kalian punya pengalaman yang sama juga?

Advertisements

2 thoughts on “Couple Stories: Semua Orang Bisa Berubah

  1. Hi bun.. Suamimu benar-benar sama dengan suamiku. Haduh bun serasa mau jingkrak2 punya kembaran hidup😂 tapi sy ga berani nulis ttg suami sy diblog.. Hihi.. Jadi koment disini aja Yah. Salam kenal Yah. Sy baru didunia Blogger. 😊

    Like

Terima kasih telah membaca blog post ini. Silahkan meninggalkan pesan yang sopan dan tidak mengandung SARA. Komentar tidak sesuai dengan aturan dan juga menaruh link hidup akan dimoderasi.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s